Hayo,
siapa yang pernah makan makanan yang berbahan dasar ikan bandeng? Memang,
diluar sana sudah banyak olahan yang berbahan dasar ikan bandeng. Tapi,
pria yang satu ini tidak kehilangan
kreatifitas untuk menciptakan inovasi baru yang enak dan tentunya laris manis
di masyarakat. Pria yang bernama Imam
Tantowi ini dapat mengolah ikan bandeng menjadi sosis yang gurih dengan
mempertahankan kepala dan ekor bandeng itu sendiri. Anton, begitu dia biasa disapa.
Anton
merintis usahanya diakhir tahun 2005 di Bekasi. Usaha sosis ikan bandeng ini ia
beri nama Izzan. Saat perusahaan tempat dia bekerja bangkrut, ide untuk memulai
bisnisnya muncul dan keyakinan serta tekad yang kuat mengiringinya saat itu.
Dimulai dengan modal 1 juta dan pinjaman
uang dari kakaknya, Anton memulai bisnisnya. Dibutuhkan waktu 3 bulan untuk
membuat resep makanannya. Dia lalu menambahkan telor di dalam campuran
dagingnya (tentunya dengan bumbu rahasia yang tidak bisa Anton bagi-bagi ya,
hehehe).
Tapi,
dengan berbaik hati Anton membocorkan rahasia pembuatan sosis ikan bandeng
miliknya. Yang pertama : ikan bandeng, telor dan bumbudicampur, digiling satu
wadah. Ikan bandeng yang dipilih Anton adalah ikan bandeng hitam, agar konsumen
percaya bahwa itu terbuat dari daging bandeng asli, Anton sengaja tidak
membuang tubuh bandeng itu sendiri, tapi dengan catatan bahwa tidak ada duri di
tubuh ikan bandeng saat dipotong nanti.
Setelah
matang, olahan trsebut diletakkan kembali di atas kerangka yang tinggal kepala
dan ekor. Sosis bikan bandeng Izzan ini
dapat dikonsumsi langsung atau dipanaskan terlebih dahulu. Alasan Anton memilih
bandeng hitam karena bandeng hitam adalah ikan bandeng terbaik yang tidak mengandung lumpur sehingga dagingnya
tidak berbabau lumpur. Anton selalu memilih ikan bandeng yang segar, yang
biasanya dipatok seharga Rp.15.000 dan Rp.16.000 per kilogram.
Menurut
Anton olahan ikan bandeng ini sudah terkenal di tiga daerah yaitu Cirebon,
Banten, dan Semarang, namanya saja yang berbeda. “Kalau di Cirebon disebut
bandeng gepuk, di Banten di sebut sate bandeng, sedangkan di Semarang disebut
otak-otak” ujar Anton. Tetapi Anton yakin sosis ikan bandeng miliknya berbeda
dengan yang lain karena resep rahasia yang dipakainya. Menurut Anton usaha
makanan miliknya memiliki nilai bisnis yang tinggi, hanya saja namanya belum
terlalu populer.
Jika
pemasarannya diperluas lagi, Anton yakin bisnis yang dia bangun akan meraup
keuntungan yang berlimpah. Anton sudah menebar produknya ke seantero Jakarta,
Bogor, Tanggeran, Depok dan Makassar. Semua dipasarkan dengan bantuan delapan
agen penjualan.Selain itu Anton menebar produknya ke pasar modern seperti
Giant,Hero,Farmes Market Kelapa Gading dan Mall Pondok Indah 1, termasuk di
jual di beberapa restoran seperti restoran sunda di Jabodetabek.
Dengan
dibantu empat karyawannya, Dalam sebulan Anton mampu membuat 1.400 kardus sosis
bandeng. Satu kardus berisi satu bandeng seberat 185 gram (gr). Dia menjual
produknya dengan harga mulai Rp.15.000 sampai dengan Rp.17.000 per kardusnya.
Untuk semakin mengembangkan usahanya, Anton berniat untuk melebarkan sayap
dengan memasuki pasar Bandung. Alasannya, Bandung memiliki potensi pasar yang
luas dan ramai. Karena menurut Anton kota Bandung ini kerap jadi sasaran bagi
para wisatawan diakhir pekan.

